Posted on

bismillah..

Saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menarik pada halaman situs tribun tentang haramnya kegiatan penukaran uang, rupiah ke rupiah, yang biasanya marak dilakukan menjelang hari raya lebaran. Berikut kutipan dari tautan diatas:

“Tribunnews.com, SAMARINDA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan praktik jual beli uang alias penukaran uang uang marak menjelang Lebaran. Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Samarinda Zaini Naim menegaskan jual beli uang masuk dalam kategori riba. Riba dalam Islam termasuk perbuatan yang sangat dikecam. Dalam kata lain, sengaja menukar uang dengan potongan tertentu itu dosa.

Biasanya, penukaran uang tersebut digunakan sebagai “angpao” Lebaran. Sehingga, penyedia jasa penukaran uang kecil dengan potongan tertentu, menjamur di waktu seminggu sebelum Lebaran.

“Pada pandangan Majelis Ulama Indonesia, pedagang seperti itu hukumnya haram. Mestinya aparat yang terkait seperti Bank Indonesia segera mengantisipasi jual beli uang seperti itu,” kata Zaini Naim, Rabu (23/7/2014).

Menurut Zaini, selama ini umat Islam menentang perdagangan uang. Tidak hanya itu, secara hukum Islam praktik perdagangan uang masuk ke dalam riba. Seharusnya, lanjut dia, umat Islam menghindari perbuatan yang sudah jelas haram. Terlebih, di Bulan Suci Ramadan.

“Hindari riba. Rasulullah mengatakan, riba itu ada 90 lebih modelnya. Riba yang paling ringan itu seperti seorang anak yang menyetubuhi ibunya. Bayangkan saja, dosa riba yang paling ringan itu seperti dosa seorang anak yang menyetubuhi ibunya,” ungkap dia.

Terutama, lanjut dia, dalam praktek jual beli uang, setiap pedagang mengambil untung yang yang relatif besar. Yakni dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu dari tiap uang Rp 100 ribu yang ditukarkan. Parahnya, para pembeli boleh melakukan proses tawar-menawar. “Sudah haram jelas tidak boleh dilakukan. Apalagi ada proses tawar-menawar,” Zaini.”

pernyataan MUI tersebut jelas mengundang pro dan kontra, sebab, selain praktek pertukaran antar rupiah, ada juga praktek pertukaran valuta asing yang menggunakan prinsip yang sama, yaitu sama-sama mengambil keuntungan dari proses pertukaran tersebut. Jika proses pertukaran rupiah-rupiah ini di protes keras, mengapa pertukaran rupiah-asing/asing-rupiah tidak?

 

menurut saya, seharusnya praktek penukaran uang oleh oknum ini tidak perlu ada, karena Bank pun biasanya setiap menjelang hari raya sudah bisa melayani proses penukaran uang receh tanpa ada selisih, atau setidaknya punya selisih yang lebih murah dibanding punya si oknum itu. Logika saja,  di depan gundar itu banyak orang berderet nawarin jasa penukaran uang receh, dan uangnya itu masih dalam keadan baru, bagus-bagus, masih bau bank lagi.. nah, dapat darimana mereka kalau bukan dari bank? setelah dapat uang receh tersebut, masih mau dijual kembali pula.. apalagi yang namanya oknum itu pasti nakal, bisa-bisa emang niatnya mau cari keuntungan besar dari proses penukaran tersebut. Dengan logika seperti itu berarti sudah jelas kalaupun ada selisih dari bank, maka itu pasti lebih murah dibandingkan dengan selisih dari si oknum.

MUNGKIN ulah si oknum ini yang membuat gerah MUI sampai-sampai mengeluarkan fatwa haram, karena proses ‘dagang’nya nggak beres, memanfaatkan sifat orang yang malas nukar uang ke bank, dan cenderung nyari untung besar.. meskipun dalam prinsip ekonomi itu masih wajar sih.. tapi serius, saya juga masih bingung kenapa praktek tersebut di fatwa haram? padahal, setahu saya, dalam islam itu nggak ada persenan maksimal buat keuntungan dagang lho.. karena dalam islam itu ada beberapa asas yang berlaku, seperti asas suka sama suka, asas tidak merugikan orang lain, asas tidak menipu, dan mungkin masih banyak asas-asas lagi yang saya lupa… nah, proses ini kan bisa dibilang telah memenuhi asas-asas tersebut, kan?

namun jikalau itu benar bahwa praktek tersebut haram, harusnya MUI juga mempersoalkan tentang praktel ‘Money Changer’ valas (valuta asing) yang menjamur di daerah wisata di kota-kota besar di indonesia. Kalau dicermati, kedua praktek tersebut nggak ada bedanya. Jika pada praktek penukaran uang receh sang oknum cari untung seenak jidat (misal nukar uang lembaran 100,000-an dengan 9 lembar 10,000-an), pada praktek penukaran valas ada sistem yang namanya ‘Selisih Kurs’.. selisih kurs ini kurang lebih bisa dipahami pada contoh sederhana seperti ini:

misalnya negara kita punya hutang kepada asing sebesar $ 1,000,000,-. Pada kurs tahun 2010 misalnya satu dollar seharga sembilan ribu rupiah. itu berarti negara kita berhutang sebesar Rp.9,000,000,000 (setara $ 1,000,000) kepada asing.

misalnya hutang mandek belom kebayar sampai tahun 2014. Nah, tahun 2014 kurs satu dollar sudah mencapai 12,000 rupiah. itu berarti hutang negara menjadi Rp.12,000,000,000,- kan! nyesek juga ya.. kira-kira begitu sistem selisih kurs, sehubungan nilai mata uang itu tidak selamanya stabil, maka menurut saya untuk praktek tukar mata uang asing ini masih wajar karena patokannya selalu berubah-ubah.

nah, kalau pertukaran asing yang menggunakan sistem ‘selisih kurs’ kan sudah jelas alasannya darimana mereka ambil ‘untung’, kalau praktek penukaran uang receh ini masih belum jelas takaran ‘selisih’ nya, bisa beda-beda tergantung yang menyediakan jasa. Tapi, sekali lagi saya ingatkan, meskipun menurut saya praktek penukaran uang receh oleh oknum ini seharusnya tidak ada, namun orang kecil seperti para penjaja jasa penukaran uang receh ini pun berhak menikmati THR lebaran versi mereka masing-masing.. dan menurut kacamata orang awam seperti saya ini, mereka-mereka ini hanya memanfaatkan momen lebaran dan kesempatan saja, mumpung orang-orang sedang sibuk ngurusin mudik, tidak sempat ke bank, yang biasa jual makanan mumpung lagi libur jualan karena puasa, itung-itung nambah penghasilan buat sekolah anak, buat makan anak istri, buat nyambung hidup aja udah syukur alhamdulillah..

 

tapi pendapat mengenai haram tidaknya praktek penukaran uang receh ini kembali pada diri dan hati nurani masing-masing.. pro kontra selalu ada dan perdebatan tidak akan berhenti.

 

Alhamdulillah selesai satu tulisan lagi, tema nggak jauh-jauh dari pro dan kontra yang berkaitan dengan dunia perbankan😆

mudah-mudahan nilai softskill saya bagus ya bu :shy:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s