Posted on

Terkait dengan tugas SIA untuk mewawancarai sebuah UKM saya berkesempatan untuk berbagi hasil wawancara dari salah seorang pemilik usaha toko fashion online. Berikut saya ringkas pertanyaan beserta jawabannya:

1. sejak kapan anda memulai usaha ?
2. Apa yang mendorong anda untuk berusaha ?
3. Usaha apa yang anda lakukan ?
4. Kenapa anda memilih berusaha tersebut ?
5. Sistem apa yang anda lakukan untuk menarik konsumen ?
6. Apakah anda memiliki pegawai ?
7. Jaman sekarang sedang maraknya korupsi , apa yang anda lakukan agar asisten anda tidak korupsi ?
8. Apakah anda juga menerima pembelian luar kota ? Jika iya bagaimana sistemnya ?
9. Modal yang anda keluarkan untuk memulai usaha ?

Jawaban
1.14 sept 2011
2. Karena saya sangat menyukai sepatu dan ide awal hanya hobi akhirnya saya skrg dapat mendirikan toko bernama artha collection
3.usaha dalam bidang fashion terutama sepatu
4.karena menurut saya sepatu itu adalah seni , dan awalnya saya sangat suka mengoleksi sepatu
5. Melakukan promosi dengan menyebarkan brosur dan apabila yg datang ke toko membawa brosur mereka berhak mendapatkan potongan harga
6.ya saya memiliki 3 orang asisten, dan karena terkadang saya juga bekerja, maka bisa dihitung total pegawai ada 4 orang
7.sangat tidak mungkin , karena asisten saya adalah bagian dr keluarga saya sendiri
8.ya saya sudah sering melayani pembelian luar kota , sampai saat ini yg terjauh adalah merauke . Sistem yg saya gunakan adalah pembeli mentransfer sesuai dengan nilai barang dan kesepakatan yg telah di sepakati dan saya di bantu oleh kurir dr JNE untuk mengirim paket tsb
9. Modal yg saya keluarkan untuk memulai usaha ini kurang lebih 15jt

Kira-kira begitulah ringkasan atau poin-poin penting hasil wawancara saya. Dan menurut analisa saya, sistem yang dia pakai cukup kuat, dan memenuhi standar SIA seperti proses pembukuan dan lain sebagainya. Sistem mendetail yang bisa saya tulis adalah:
poin pertama, bahwa pengusaha ini merupakan pengusaha yang bisa dibilang supplier/reseller karena ia mengambil barang dagangannya di produsen lain untuk kemudian menjualnya kembali, jadi dengan kata lain pengusaha ini tidak memproduksi barang, melainkan hanya menjualnya saja.
Poin kedua, pengusaha memiliki beberapa asisten (tiga orang) yang semuanya merupakan saudara sendiri. Bukan bermaksud berburuk sangka namun peluang terjadinya korupsi tetap ada meskipun sangat kecil sekali kemungkinannya.
Poin ketiga, sistem yang dia pakai cukup teratur dan terencana dengan baik, bahkan bisa dibilang cukup sederhana. pelanggan hanya butuh memesan barang melalui SMS/BBM/Whatsapp atau datang ke toko langsung, keduanya dilayani oleh asisten pertama yang tugasnya multi-fungsi (menerima pesanan ditempat juga melayani pembayaran) . Kemudian dia ke bagian gudang untuk mengecek apakah stok barang masih ada, dan memberi tanda bukti pengambilan barang dari asisten kedua yang bisa dibilang pengelola gudang. Kemudian setelah barang ada ditangan, pembeli bisa langsung membayar kepada asisten satu, mencatat pemasukan dan memberikan struk/tanda bukti pembayaran.
Poin keempat, proses pengambilan barang ke produsen. Pengusaha ini cukup berani karena beberapa barangnya adalah hasil impor dari luar negri (china). Cara ia memesan barang dari luar negri ini cukup sederhana. ia hanya tinggal mengontak salah seorang saudaranya yang memang menetap disana, dimana saudara si pengusaha ini memiliki channel berupa produsen barang fashion seperti tas, sepatu, aksesoris dan lain-lain. Kemudian dengan jasa pengiriman paket antar Negara barang dagangan pun bisa diantar. Untuk barang yang diambil dari produsen dalam negri, si pengusaha ini punya asisten yang memang kerjanya khusus bolak-balik gudang sama “pabrik” hanya untuk mengambil barang. Si asisten ini bertanggung jawab penuh atas banyaknya barang yang dipesan-diterima dari produsen local.
Poin kelima, sehari sekali si pemilik usaha akan mengevaluasi setiap pegawainya serta total pendapatan untung rugi untuk memastikan jumlah uang berbanding sama dengan catatan pemasukan dan sisa stok persediaan. Untuk evaluasi buku besarnya dilakukan tiap bulan satu kali. omset yang didapat toko ini mencapai puluhan juta rupiah perbulannya, namun si pengusaha tidak mau menyebutkan nominal secara rinci. untuk sistem gaji pegawai si pemilik mematok UMR daerah setempat meskipun pegawainya keluarga sendiri. motto hidupnya: “teman ya teman, bisnis ya bisnis”. penggajian dibayar pada tanggal tertentu setiap bulannya.

Kesimpulan yang bisa saya tarik disini adalah, saya hampir tidak bisa melihat adanya peluang korupsi di sistem ini. Apalagi melihat dari sang pemilik yang sering kali turun langsung ke lapangan untuk sekedar mengontrol keadaan di toko maupun “dibelakang toko” dari proses pengambilan barang dari produsen, pengantaran barang, penyimpanan barang, sampai penjualan barang, semua juga terlihat normal dan masih dalam batas kewajaran.
Satu hal yang saya bisa waspadai adalah adanya kemungkinan praktik curang oleh produsen luar negri, pasalnya si pengusaha pernah bilang bahwa ada kejadian dimana kondisi barang pesanan yang diterima tidak seperti dengan yang ia minta, seperti rusak, cacat, atau bahkan hilang (tidak sesuai jumlahnya) karena praktek pengepakan barang tersebut berlangsung di china sana, kemungkinan ada praktek korupsi kecil-kecilan disana. Namun untuk Artha Collection ini, semua sistem sudah mendekati sempurna karena hampir tidak ada celah untuk korupsi yang bisa saya lihat dengan mata seorang awam ini.

PS: DFD menyusul

 

EDIT: ini dia DFD (Data Flow Diagram) yang saya janjikan..

dfd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s